Jumat, 22 Februari 2008

Malaysia Hentikan Semua Acara Kesenian Asal Indonesia

Kuala Lumpur (ANTARA News) - Kementerian Pelancongan Malaysia minta semua promosi pariwisata yang menampilkan kebudayaan yang berasal dari Indonesia, seperti tarian Barongan dan Endang, dihentikan menyusul kontroversi oleh para aktivis kebudayaan Indonesia.
Menteri Pelancongan Malaysia, Adnan Tengku Mansor, mengatakan langkah itu diambil guna meredakan kontroversi, sambil menantikan pembahasan atau perundingan yang akan dilakukan oleh Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, demikian harian Utusan Malaysia, Selasa.
"Tarian Barongan memang ada di Johor. Kalau lihat sejarah nenek moyang kita menjelajah dari satu pulau ke pulau dengan membawa budaya dan cara hidup seperti tarian tradisional dari Indonesia yang kini menjadi bagian seni budaya Malaysia," kata Adnan.
Zaman dulu mana ada batas antara Malaysia dan Indonesia, mana ada paspor dan tidak ada sistem imigrasi," katanya kepada para wartawan.Ia mengatakan pula, ketika delegasi Malaysia mempersembahkan tarian Endang di Osaka, Jepang, Departemen Luar Negeri dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI mengirim surat protes yang berisi mengingatkan bahwa tarian tersebut berasal dari Indonesia.
Kementerian Pelancongan dan Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan Malaysia sudah mengatakan kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik untuk duduk bersama menyelesaikan permasalahan ini.Selain itu, Utusan Malaysia juga membuat karikatur percakapan dua laki- laki, "Barongan, tarian Endang dalam promosi pelancongan dihenti," "Tempe masih bisa dimakan".
Sementara Berita Harian menurunkan berita bahwa Kementerian Pelancongan dan Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan akan duduk satu meja dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI untuk membahas kontroversi kesenian dan kebudayaan Indonesia-Malaysia.Ketika Jero Wacik dan Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Rais Yatim bertemu, Sabtu (10/11) di Kuala Lumpur, ia mengatakan kepada ANTARA, "Indonesia dan Malaysia itu satu rumpun. Kebudayaan dan kesenian relatif sama. Tidak masalah kesenian Indonesia dipentaskan Malaysia dalam forum internasional, tetapi harus jujur dikemukakan bahwa asalnya dari Indonesia".

Budaya Indonesia

Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum bentuknya nasional Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari kebudayaan beraneka ragam suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral daripada kebudayaan Indonesia.

Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya seperti kebudayaan
Tionghoa, kebudayaan India dan kebudayaan Arab. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.

Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (
Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikahi penduduk lokal menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.

Kebudayaan Arab masuk bersama dengan penyebaran agama
Islam oleh pedagang-pedagang Arab yang singgah di Nusantara dalam perjalanan mereka menuju Tiongkok.